Bakorwil III Malang Dorong UMKM Naik Kelas dengan Rebranding Produk

MALANG, BANGSAONLINE.com - Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta Kelompok Tani Hutan (KTH) melalui fasilitasi rebranding produk berbasis program Millennial Job Center (MJC).

Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan bertajuk Peningkatan Daya Saing dan Nilai Tambah Produk melalui Fasilitasi Desain Kemasan Produk bagi KTH dan Pelaku Usaha di Kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur yang digelar di Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Kamis (5/11/2026).

Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, mengatakan penguatan identitas produk menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing UMKM maupun KTH di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Menurut dia, pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan produksi, tetapi juga perlu memperkuat merek, desain kemasan, dan identitas produk agar memiliki daya tarik yang lebih tinggi di pasar.

“Potensi daerah harus mampu kita ubah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kita tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi harus mampu menciptakan produk olahan yang memiliki identitas, kualitas, dan nilai tambah,” paparnya.

Ia mengatakan bahwa kemasan produk memiliki fungsi strategis, tidak hanya sebagai pelindung produk, tetapi juga sebagai sarana pemasaran yang mampu memperkenalkan identitas daerah kepada konsumen.

Potensi pengembangan tersebut didukung oleh jumlah UMKM yang cukup besar di Jawa Timur. Di Kabupaten Blitar tercatat terdapat 35.115 UMKM, sementara Kabupaten Malang memiliki sekitar 104 ribu UMKM. Secara keseluruhan, jumlah UMKM di Jawa Timur mencapai lebih dari 2,58 juta unit usaha.

Melalui program MJC, Bakorwil III Malang mempertemukan pelaku usaha dengan talenta kreatif guna menghasilkan desain produk yang lebih profesional dan kompetitif. Program ini melibatkan dua mentor, 25 talenta kreatif, dan 25 pelaku usaha yang masing-masing memperoleh pendampingan untuk satu produk unggulan.

Pendampingan dilakukan selama sekitar dua minggu, mulai dari identifikasi karakteristik produk, penyusunan konsep desain, pengembangan identitas merek, konsultasi, hingga penyempurnaan kemasan. Hasil akhir berupa desain kemasan siap cetak yang dapat langsung digunakan oleh pelaku usaha.

Dalam kegiatan, Asihing Kustanti menekankan pentingnya kemampuan pelaku usaha dalam memahami potensi pasar, menentukan harga, dan mengenali karakteristik konsumen.

Ia menilai, sejumlah komoditas lokal seperti nanas madu, sukun, dan pisang Cavendish masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi.

Dari sektor kehutanan, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Malang juga mendorong penguatan kapasitas Kelompok Tani Hutan. Saat ini Kabupaten Blitar memiliki sekitar 225 KTH, namun proses pendampingan masih menghadapi keterbatasan jumlah penyuluh kehutanan.

Selain inovasi kemasan dan produk, KTH dinilai memerlukan dukungan lain seperti peralatan produksi, perizinan usaha, sertifikasi halal, hingga perluasan akses pemasaran guna meningkatkan daya saing.

Sebagai bagian dari upaya promosi, Bakorwil III Malang juga membuka peluang pemasaran produk unggulan melalui fasilitas show window yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar.

Melalui program fasilitasi rebranding tersebut, Bakorwil III Malang berharap UMKM dan KTH tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga membangun merek yang kuat, meningkatkan nilai jual, serta memperluas akses pasar sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan Selatan Jawa Timur. (dad/mar)