Pengajian Akbar di Bali, Kiai Asep: Sikap Moderat Harus Tulus, Tak Boleh Basa-Basi

DENPASAR, BANGSAONLINE.com-Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, menegaskan bahwa Al Mudarah atau moderasi merupakan nilai keislaman Ahlussunnah Wal Jemaah (Aswaja) yang menjadi salah satu pondasi berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926. Al Mudarah adalah sikap ramah, lemah lembut, atau toleran untuk menjaga kedamaian dan persatuan.

“Karena itu ketika kita misalnya bergaul dengan orang Hindu harus tulus, sepenuh hati. Tak boleh basa-basi,” tegas Kiai Asep Saifuddin Chalim dalam Pengajian Akbar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pendopo Kalifa Nusantara, Padangsambian, Denpasar Barat, Bali pada 18 Oktober 2026.

Menurut Kiai Asep, moderasi itu bagian dari iman.

“Al mudaratu minal iman, wal kadzbu minan nifaq. Moderasi itu bagian dari iman, sedangkan berbohong itu bagian dari kemunafikan,” tegas putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU itu.

“Tunjukkan kepada mereka bahwa Islam itu baik,” tambah Kiai Asep yang dikenal gemar bersedekah itu.

Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, semua peserta pengajian akbar yang datang dari berbagai pelosok Bali itu memang dikasih uang transport oleh Kiai Asep.

Meski demikian, tegas Kiai Asep, kita tidak boleh kehilangan jati diri atau prinsip. Misalnya mereka melakukan maksiat, kita tak boleh ikut melakukan, apalagi larut dalam perbuatan mereka.

Menurut Kiai Asep, sikap mudarah itulah yang membuat NU sukses menyatukan berbagai komponen bangsa untuk bersatu dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut Kiai Asep, saat perjuangan kemerdekaan itu juga muncul Islam berpaham khilafah yang dikembangkan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Tokoh nasionalis itu merupakan salah satu pimpin Syarikat Dagang Islam yang kemudian menjadi Syarikat Islam (SI).

KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Abdul Chalim, tutur Kiai Asep, semula satu garis perjuangan dengan Tjokroaminoto dalam SI. Bahkan saking dekatnya persahabatan dan perjuangan mereka, Kiai Abdul Chalim - ayahanda Kiai Asep - sempat menulis kata pengantar untuk buku yang ditulis Tjokroaminoto.

Tapi, kata Kiai Asep, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Abdul Chalim kemudian keluar dari Sarikat Islam dan pamit secara baik-baik kepada Tjokroaminoto.  

“Karena kalau Islam khilafah tak mungkin bisa menyatukan bangsa, bahkan malah pecah dari dalam,” ujar Kiai Asep yang merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).  

Kiai Wahab Hasbullah kemudian berinisiatif mendirikan organisasi. Tapi ia sadar bahwa organisasi itu bisa besar jika dipimpin oleh ulama besar dan berpengaruh luas. Tak ada pilihan lain selain Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.

“Karena Hadratussyaikh banyak santrinya dan bapak umat Islam,” ujar Kiai Asep di depan peserta pengajian yang memenuhi Pendopo Kalifa Nusantara secara lesehan.  

Apalagi Hadratussyaikh merupakan guru Kiai Abdul Wahab. Kiai Wahab pernah nyantri di Pesantren Tebuireng selama empat tahun.

Namun ketika Kiai Wahab menyampaikan niatnya mendirikan organisasi, Hadratussyaikh tak kunjung memberikan restu. Menurut Kiai Asep, Kiai Wahab sempat cemas. Sehingga Kiai Wahab sempat curhat kepada Kiai Abdul Chalim.

“Kalau Hadratussyaikh tidak merestui, maka ada dua pilihan Kiai Wahab. Yaitu kembali ke pondok untuk mengkader para santri sebagai pejuang kemerdekaan atau masuk organisasi yang sudah ada sambil memperbaiki dari dalam,” ujar Kiai Asep.

Saat itulah Kiai Abdul Chalim menenangkan hati Kiai Wahab. Menurut Kiai Abdul Chalim, Hadratussyaikh pasti merestui karena visi Hadratussyaikh sama dengan visi Kiai Wahab.

Kiai Abdul Chalim kemudian sowan ke Hadratussyaikh di Tebuireng. Menurut Kiai Asep, Kiai Abdul Chalim menyampaikan kondisi Kiai Wahab yang gundah. Hadratussyaikh kemudian merestui dan menyuruh Kiai Wahab dan Kiai Abdul Chalim mengundang para kiai sehingga terjadi rapat Komite Hijaz yang dihadiri sekitar 65 ulama NU di Surabaya.

Terkait peringatan Hari Santri Nasional, Kiai Asep mengungkap peran para kiai dalam pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya. Menurut Kiai Asep, saat itu Hadratussyaikh mengeluarkan Resolusi Jihad yang mewajibkan umat Islam berperang melawan penjajah dalam radius 94 KM dari tempat musuh atau penjajah. Angka ini didasarkan pada jarak syariat yang memperbolehkan seseorang melakukan jamak dan qashar salat.

Menurut Kiai Asep, meski Bung Karno dan Bung Hatta tidak setuju dan memilih penyelesaian diplomasi atau perundingan karena khawatir jumlah korban besar, tapi Hadratussyaikh mengambil keputusan klais fisik dengan penjajah karena lewat jalan perundingan pasti kalah.

“Tapi Jenderal Soedirman setuju dengan keputusan Hadratussyaikh. Ketika Bung Tomo tanya kapan kita menyerang, Hadratussyaikh menjawab tunggu kedatangan Kiai Abbas Abdul Jamil dari Cirebon,” ujar Kiai Asep.

Kiai Abbas Abdul Jamil tiba di Tebuireng pada 9 Nopember 1945. “Kiai Abbas memutuskan besok tanggal 10 kita menyerang sehabis Subuh,” ujar Kiai Asep.

Dalam pertempuran 10 November itu tiga santri Tebuireng menculik Jenderal Mallaby.

“Tapi namanya dirahasiakan. Nama tiga santri itu baru boleh diungkap setelah mereka meninggal, karena demi keamanan,” ujar Kiai Asep yang mengaku baru tahu nama-nama mereka saat membahas pengusulan KH M Yusuf Hasyim dan KH Abbas Abdul Jamil sebagai pahlawan nasional.

 Menurut Kiai Asep, korban pertempuran 10 November itu mencapai 30 ribu hingga 40 ribu orang.

“Mereka bergelimpangan di sungai Kali Mas Surabaya. Dari mana sumbernya? Itu ditulis oleh koran Amerika The New York Times tanggal 12 November,” ujarnya.

Pada akhir ceramahnya Kiai Asep mengajak peserta pengajian membaca surat al Ikhlas dan surat Al Fiil kemudian diakhiri pembacaan Hizbi Nashor. Menurut Kiai Asep, Hizib Nashor itu yang dibaca oleh Hadratussyaikh saat perang melawan penjajah, termasuk dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

“Semoga yang merusak Indonesia dan NU segera dihancurkan oleh Allah SWT,” ujar Kiai Asep yang langsung diamini secara bergemuruh.

Acara Pengajian Akbar itu terlaksana berkat kerjasama banyak pihak. Terutam Pergunu, JKSN dan lembaga lainnya. Tampak Dr Aris Adi Laksono, Sekjen Pergunu, Muhammad Ghofirin, Sekjen JKSN, Ahmad Zuhri, Wakil Ketua Umum Pergunu, dan Prof Ilyas, penasehat Pergunu.

Juga  Drs Makhfudz, Ketua PW Pergunu Bali, Dr H Aap Syafruddin Muslih, mantan Ketua PCNU Badung, Dr Saepulloh, Ketua PW Pergunu Jawa Barat, H Moh Maimun Noor, Ketua JKSN Bali, dan Syahroni, Bendahara JKSN Bali.

Ketua DPD Gerindra Bali Made Muliawan Arya yang akrab dipanggil De Gadjah sempat hadir pada akhir acara untuk bertemu Kiai Asep, namun langsung meninggalkan tempat acara.