Petrokimia Gresik Gelar Harvestion 2026, SMKN 1 Kademangan Blitar Sukses Tingkatkan Panen Bawang

Ia menjelaskan, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV), Petrokimia Gresik terus memperkuat kolaborasi dengan dunia pendidikan untuk menghadirkan pembelajaran pertanian yang aplikatif dan berkelanjutan.

Pendekatan tersebut menempatkan sekolah sebagai pusat pengembangan kompetensi dan inovasi. Manfaatnya tidak hanya dirasakan peserta didik, tetapi juga berpotensi menjangkau masyarakat sekitar.

Keberhasilan School Lab Farming menjadi salah satu contoh pemanfaatan lahan sekolah untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian.

"Sekolah harus menjadi ruang bagi siswa untuk menguji pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan. Melalui Harvestion, kami ingin mendorong lahan dan unit produksi sekolah berkembang menjadi laboratorium pembelajaran nyata yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan pertanian di lapangan," tambah Daconi.

Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, Harvestion 2026 mengusung tema “Pertanian Presisi: Tanam Tepat, Olah Hebat, Nilai Berlipat”. Tema ini menitikberatkan pada pengembangan sektor pertanian dari hulu hingga hilir.

Aspek tanam tepat berfokus pada pengelolaan kesuburan tanah, pemupukan terukur, serta efisiensi penggunaan air dan lahan. Sementara itu, olah hebat menekankan penanganan pascapanen dan pengolahan hasil untuk menjaga mutu serta menekan kehilangan hasil.

Adapun aspek nilai berlipat diarahkan pada penciptaan nilai tambah ekonomi melalui inovasi, kewirausahaan, dan penguatan kolaborasi antara sekolah, industri, serta masyarakat.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Harvestion 2026 menghadirkan tiga kategori kompetisi, yakni Olimpiade Pertanian, Inovasi dan Teknologi Pertanian, serta School Lab Farming.

Ketiga kategori itu dirancang untuk memperkuat kompetensi akademik dan keterampilan praktik, mendorong lahirnya inovasi teknologi tepat guna, serta mengembangkan potensi sekolah sebagai pusat pembelajaran pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

Kategori Olimpiade Pertanian diperuntukkan bagi siswa SMK bidang Agribisnis dan Agroteknologi se-Jawa Timur.

Kompetisi ini menguji penguasaan ilmu pertanian, kemampuan analisis, serta ketepatan peserta dalam menyelesaikan persoalan pertanian dari hulu hingga hilir.

Sementara itu, kategori Inovasi dan Teknologi Pertanian mendorong siswa menciptakan solusi aplikatif berdasarkan persoalan nyata di lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar.

Kompetisi ini mencakup bidang agronomi dan pengolahan hasil pertanian, dengan penekanan pada efisiensi budi daya, peningkatan produktivitas, penjagaan mutu hasil panen, serta penciptaan nilai tambah melalui teknologi tepat guna.

Adapun kategori School Lab Farming ditujukan untuk mendorong guru SMK Pertanian mengembangkan rancangan program berbasis CSV yang mengoptimalkan lahan dan unit produksi sekolah sebagai laboratorium hidup (living lab) pertanian presisi.

Melalui pendekatan tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat pembelajaran, tetapi juga mampu mengembangkan praktik pertanian produktif yang berorientasi pasar dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Daconi menegaskan bahwa inovasi yang dikembangkan melalui Harvestion tidak harus rumit atau menggunakan teknologi tinggi. Hal terpenting, inovasi tersebut harus mampu menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat yang dapat dibuktikan.

Karena itu, pengembangan inovasi diarahkan pada solusi yang relevan dengan kebutuhan pertanian, berpotensi berkelanjutan, serta dapat diterapkan atau direplikasi oleh sekolah lain maupun petani di sekitarnya.

Ia berharap Harvestion menjadi sarana untuk memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan industri dalam mempersiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi serta ketertarikan untuk mengembangkan sektor pertanian.

Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta maupun prestasi dalam kompetisi, tetapi juga dari keberlanjutan penerapan inovasi dan manfaat yang dihasilkan.

"Harapan kami, Harvestion tidak berhenti sebagai ajang kompetisi, tetapi menjadi titik awal lahirnya inovasi dan talenta pertanian yang mampu membawa perubahan. Ketika sekolah mampu menghasilkan solusi yang aplikatif, generasi muda memiliki ruang untuk berkarya, dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat, di situlah pendidikan vokasi menjadi kekuatan nyata bagi masa depan pertanian Indonesia," pungkas Daconi.

Sebagai informasi, pendaftaran Harvestion 2026 telah dibuka sejak 15 Oktober 2026. Pendaftaran kategori Olimpiade Pertanian berlangsung hingga 30 Oktober 2026, sedangkan kategori Inovasi dan Teknologi Pertanian dibuka hingga 20 November 2026.

Informasi lengkap mengenai kategori kompetisi, persyaratan, jadwal, dan mekanisme pendaftaran dapat diakses melalui laman resmi https://harvestion.id. (hud/van)