Hadiri Gebyar Senam Santri Aswaja di Malang, Gubernur Khofifah Tekankan Pendidikan Karakter Anak

MALANG, BANGSAONLINE.com - Gubernur Khofifah menghadiri Gebyar Senam Santri Aswaja yang digelar Ikatan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (IGPAUD) Muslimat NU Kabupaten Malang di Sengkaling Recreation Park, Senin (2/11/2026).

Agenda tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Santri Nasional 2026, sekaligus sarana menanamkan nilai religiusitas dan nasionalisme kepada anak-anak sejak usia dini.

Lebih dari 6.000 peserta yang terdiri atas siswa Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), Kelompok Bermain (KB), guru, serta wali murid turut memeriahkan kegiatan. Seusai senam bersama, Khofifah membaur dan menyapa para peserta yang hadir.

Dalam kesempatan itu, ia mengajak anak-anak untuk tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, mencintai tanah air, serta mampu membanggakan keluarga, daerah, bangsa, dan agama.

Menurut dia, pembentukan generasi penerus bangsa harus dimulai sejak dini dengan menanamkan nilai religius yang berjalan seiring dengan semangat nasionalisme.

"Kalau membibit sebenarnya dimulai dari kehamilan, kemudian dari balita dan ini ada yang balita kalau kelompok bermain, tapi ada yang sudah umur 6 tahun kalau itu TK, RA kalau kita mau menanamkan sisi religiusitas berseiring dengan sisi nasionalisme," ujarnya.

Khofifah menyebut peringatan Hari Santri menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat nilai religius dan nasionalisme generasi muda. Ia mengingatkan bahwa Hari Santri memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

"Momentum hari santri itu adalah sangat tepat karena hari santri itu sesungguhnya referensi bagaimana mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih oleh warga bangsa ini," katanya.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Muhammad Hasyim Asy'ari.

"Kyai Muhammad Hasyim Asy'ari menyerukan resolusi jihad yang menyerukan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan fardhu ain, artinya kewajiban setiap warga bangsa tapi waktu itu terutama Jawa dan Madura," paparnya.

Khofifah menyatakan, seruan tersebut menjadi semangat bagi kalangan santri untuk turut mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Peran santri dalam perjalanan sejarah bangsa dinilai memiliki kontribusi besar, khususnya dalam peristiwa yang kemudian menjadi bagian dari sejarah Hari Pahlawan.

"Jadi hari santri itu adalah hari dimana para santri digerakkan oleh pendiri NU KH. Hasyim Asy'ari untuk bergerak mempertahankan kemerdekaan dan itu basisnya adalah di Surabaya. Maka 22 Oktober sampai lah kemudian masuk ke 10 November itu kemudian oleh pemerintah dijadikan tonggak sejarah sebagai hari pahlawan," ucapnya.

Ia juga menyoroti peran pesantren yang telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pesantren disebut memiliki kontribusi besar dalam membentuk jiwa patriotisme dan nasionalisme di tengah masyarakat.

"Sebetulnya pesantren itu memiliki kemandirian yang luar biasa, sebelum Indonesia ini merdeka pesantren itu sudah ada, jadi sebetulnya kalau mencari heroisme, patriotisme kemudian berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan itu peran pesantren luar biasa," katanya.

Selain itu, Khofifah menilai perlindungan dan pengawasan terhadap santri serta lembaga pesantren perlu terus diperkuat melalui sinergi berbagai pihak, termasuk pemerintah.

"Jadi memang harus ada perlindungan dan pengawasan yang memang dilakukan oleh Kemenag secara kontinyu terstruktur dan sistematis, membutuhkan satu koordinasi untuk memberikan perlindungan dari proses pembinaan yang dilakukan oleh pesantren pesantren yang ada di semua daerah yang ada di Indonesia," ujarnya.

Gubernur Jawa Timur turut memberikan motivasi kepada para peserta agar terus belajar dan tumbuh menjadi generasi yang saleh, berilmu, serta mampu berkontribusi bagi bangsa.

"Anak-anak TK, KB, dan RA semua mudah-mudahan anak-anak dianugerahkan ilmu yang manfaat barokah, anak-anak yang Sholeh Sholehah, anak-anak yang bisa membawa kebanggan keluarga, daerah, Indonesia dan agama," tuturnya.

Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi peserta, Pemprov Jatim menyiapkan 33 unit kipas angin dan bantuan apresiasi senilai total Rp33 juta. Masing-masing kecamatan yang berpartisipasi menerima satu unit kipas angin serta uang apresiasi sebesar Rp1 juta.

"Kontribusi terbaik bagi sumber daya manusia di Malang, Jawa Timur, dan Indonesia, selamat Hari Santri 2026," pungkasnya. (dev/mar)