SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof Dr KH Asep Saifudin Chalim, MA, menilai bahwa negara dan bangsa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Menurut Kiai Asep, peristiwa penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh, yang diduga dilakukan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan beberapa perwira bintang tiga dan dua yang berujung penangkapan sejumlah jenderal membuat warga Indonesia was-was.
“Negara kita tidak baik-baik saja. Bisa saja nanti terjadi sesuatu. Karena itu kita shalat lidaf’il bala’, shalat untuk menolak bala’,” ujar Kiai Asep Saifuddin Chalim di depan para kiai yang dikumpulkan di kediamannya di Kawasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Utara, Rabu (4/11/2026).
“Hubbul wathan minal iman, mencintai tanah air itu bagian dari iman,” tambah Kiai Asep.
Selain mendoakan negara Indonesia, Kiai Asep juga mengajak mendoakan Jawa Timur dan Kabupaten Mojokerto.
“Pertama, kita berdoa untuk hajat kita masing-masing. Karena kita semua punya hajat, keinginan masing-masing. Tapi tolong kita juga berdoa untuk negara Indonesia, Jawa Timur dan Majokerto,” pinta putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU itu.
Kiai Asep mengajak para kiai shalat lidaf’il bala’ di lantai tiga kediamannya. Kiai Asep didampingi Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk, ulama dari Universitas Al Azhar Mesir yang menjadi guru tugas di Amanatul Ummah.
Kiai Asep mengakui bahwa shalat lidaf’il bala’ tak ada referensinya. Artinya, tidak ada rujukan Hadits-nya. Tapi lebih fokus pada doa minta terhindar dari bala’. Umumnya para ulama memandang shalat didaf’il bala’ sebagai shalat sunnah mutlak atau shalat hajat.
Shalat lidaf’il bala’ terdiri dari dua rakaat. Pada rakaat pertama baca surat al Fatihah. Setelah baca surat Fatihah baca surat al Kautsar 17 kali dan surat al Ikhlas lima kali. Kemudian baca surat al Falaq dan An Nas, masing-masing satu kali.
Begitu juga pada rakaat kedua. Bacaannya sama. Kiai Asep memimpin shalat lidaf’il bala’ dua kali. Yaitu dua rakat-dua rakaat dan dua kali salam.
Setelah itu Kiai Asep mengajak dan memimpin shalat hajat 12 rakaat. Enam kali salam. Shalat hajat 12 rakaat itu sering dilakukan bersama para kiai di kantor JKSN Surabaya. Selain itu juga dilakukan secara rutin tiap malam oleh Kiai Asep bersama puluhan ribu santri Amanatul Ummah.
Kiai Asep punya keyakinan bahwa hamba-hamba yang sholeh menjadi penopang bagi bumi yang diciptakan oleh Allah. Menurut Kiai Asep, orang-orang yang sholeh itulah sebagai penopang keselamatan negara dan alam semesta.
Kiai Asep kemudian mengutip al Quran Surat Al Anbiya’ ayat 105.
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Aż-Żikr (Lauḥ Maḥfūẓ), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
Kiai Asep juga mengutip al Quran surat al Baqarah ayat 251.
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
"Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah rusak bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas seluruh alam."







