KEDIRI,BANGSAONLINE.com - Perekonomian di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri tumbuh 5,10 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026.
Capaian tersebut mendekati pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,05 persen, meskipun masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 5,84 persen.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Deasi Surya Andarina, menyampaikan bahwa penguatan ekonomi di wilayah Mataraman terutama ditopang oleh lapangan usaha (LU) industri pengolahan, pertambangan dan penggalian (PBE), serta sektor konstruksi.
"Secara spasial, pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah ini dicatatkan oleh Kabupaten Ngawi, sementara pertumbuhan terendah terjadi di Kota Kediri," kata Deasi dalam keterangan tertulis yang diterima Bangsaonline.com, Minggu (8/11/2026).
Dari sisi harga, Deasi menjelaskan bahwa tekanan inflasi di wilayah kerja BI Kediri pada periode tersebut masih terkendali dan berada dalam sasaran, baik secara tahunan maupun bulanan.
Kendati demikian, Bank Indonesia mencatat adanya tekanan kenaikan harga pada sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai merah, tomat, dan bawang merah.
Menurutnya, kenaikan harga komoditas pangan bergejolak (volatile food) tersebut dipicu keterbatasan pasokan akibat gangguan produksi dan cuaca kering selama musim kemarau panjang, serta meningkatnya permintaan dari luar wilayah.
Dari sisi intermediasi perbankan, kinerja di wilayah kerja BI Kediri pada Juli 2026 juga menunjukkan indikasi pemulihan. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh positif sebesar 5,59 persen (yoy), ditopang lonjakan giro sebesar 45,69 persen dan tabungan sebesar 5,51 persen. Sementara itu, kontraksi penyaluran kredit mulai mereda menjadi 7,24 persen (yoy).
Dari sisi sektoral, Deasi menambahkan, kredit pertanian kembali mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 6,18 persen (yoy). Adapun kontraksi kredit pada sektor industri pengolahan mulai menunjukkan perlambatan.
"Meski demikian, pihak perbankan tetap diminta mencermati rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan / NPL) yang berada di level 3,71 persen guna menjaga kesehatan perbankan yang berkelanjutan," urainya.
Sementara itu, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan Survei Konsumen menunjukkan kinerja dunia usaha serta keyakinan konsumen pada 2026 masih berada di zona optimistis, dengan indeks di atas 100. Meski demikian, kedua indikator tersebut cenderung mengalami moderasi dibandingkan awal tahun akibat dinamika ketersediaan lapangan kerja.
Untuk merespons dinamika global, termasuk perlambatan ekonomi dunia akibat gejolak geopolitik dan ketidakpastian pasar keuangan, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan domestik.
Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Oktober 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dan Lending Facility (LF) sebesar 6,50 persen. Pada saat yang sama, Bank Indonesia menaikkan Deposit Facility (DF) menjadi 5,00 persen.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus mengarahkan inflasi agar tetap berada dalam sasaran 2,5 persen ± 1 persen pada periode 2026–2027. Upaya tersebut turut didukung pemberian insentif likuiditas, penguatan instrumen pendukung, serta perluasan ekosistem pembayaran digital. (uji/van)










