Oleh: M. Mas’ud Adnan
Publik terkejut. Tiba-tiba Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pasang badan membela Wakil Presiden Gibran yang sedang menjadi sorotan publik akibat putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Putusan itu menyatakan tidak menemukan bukti bahwa Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang bisa disetarakan dengan pendidikan SMA, Aliyah, SMK atau sederajat sesuai UU Pemilu. Gibran dianggap tak memenuhi syarat sebagai Wapres. Tapi kenapa Dedi Mulyadi justeru membela dan memujinya setinggi langit? Menurut M. Mas'ud Adnan, hubungan Gibran-Dedi Mulyadi tidak bisa dibaca semata dalam kaca mata politik tapi harus dipahami dalam perspektif mistisisme politik. Inilah analisis CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE itu. Selamat menyimak tulisan alumnus Pesantren Tebuireng dan Pascasarjana Unair itu:
Sepak terjang politik Jokowi Widodo memang luar biasa. Sosok yang semula dikesankan sebagai orang sederhana, lugu dan polos, ternyata menjelma sebagai politisi dahsyat yang “memporakporandakan” tatanan jagat politik Indonesia.
Saya pernah mendengar ucapan Jokowi langsung ketika beliau berkunjung kepada seorang kiai kharismatik yang juga pengasuh pesantren di Jawa Timur. Saat itu Jokowi sebagai presiden. Saya kebetulan diundang oleh pengasuh pondok pesantren tersebut. Kiai tersebut bahkan mengajak saya menemui Jokowi secara terbatas di lantai dua kediamannya. Sementara para kiai lain berada di lantai bawah.
Saat itulah Jokowi menyampaikan bahwa dirinya hanya orang biasa. “Saya bukan ketua partai, saya juga bukan tokoh nasional,” ujar Jokowi. Tapi bisa menjadi presiden.
Saat itu saya melihat Jokowi sangat convindent alias sangat percaya diri. Ia bahkan cenderung meremehkan para ketua partai. Sama dengan Presiden Prabowo, saat menjadi presiden, Jokowi memang mampu mengkooptasi para ketua umum partai politik.
Secara formal Jokowi dikenal beragama Islam. Tapi banyak pihak menyebutkan bahwa Jokowi sangat kental dengan unsur supranatural dan kepercayaan Jawa. Dalam pespektif inilah saya lalu memahami pernyataan Dedi Mulyadi ketika membela Gibran sekaligus memujinya setinggi langit. Menurut dia, sebagai putra Jokowi, Gibran mendapat pendidikan Jawa sangat kuat dalam jiwanya. Bahkan, menurut Dedi Mulyadi, Gibran juga memiliki kemampuan hipnotis. Luar biasa!
“Menurut saya Mas Gibran itu sudah masuk dalam tahap kemapanan itu,” tegas KDM – panggilan akrab Dedi Mulyadi.
KDM bahkan mengatakan Gibran memiliki kemampuan intelektual. Padahal publik mencemooh Gibran miskin intelektual. Terutama karena dalam beberapa acara dialog sering tak nyambung antara pertanyaan dan jawabannya.
Saat membahas nutrisi untuk mencegah stunting Gibran mengatakan bahwa ibu hamil membutuhkan asam sulfat, padahal zat yang benar adalah asam folat (vitamin B9). Asam sulfat adalah senyawa kimia anorganik berbentuk cairan kental yang jika dikonsumsi bisa membakar jaringan tubuh, mulut, tenggorokan dan lambung. bahkan bisa menyebabkan lubang atau robekan pada kerongkongan dan usus.
Tapi KDM justeru memuji Gibran memiliki kapasitas intelektual. KDM juga mengatakan bahwa Gibran dididik secara spiritual oleh orang tuanya (Jokowi). KDM mengatakan, ini merupakan tradisi keprihatinan dalam keluarga Jokowi yang membentuk karakter dirinya.
Menurut KDM, Gibran berbeda dengan politisi lainnya. “Yang lain politisinya polos-polos. Yang lain mungkin berucap tidak dengan isinya. Hanya bersikap dengan kata-katanya tapi tidak dengan rasanya,” tegas gubernur yang dikabarkan memiliki kedekatan dengan konglomerat Sugianto Kusuma alias Aguan itu.
Karena itu KDM minta semua pihak hati-hati dengan Gibran. Menurut dia, Gibran tak banyak omong.
“Jarang berucap, tapi sekali berucap bisa mengguncang dunia,” tegas KDM memuji Gibran.
Dedi Mulyadi juga beragama Islam. Bahkan ia menyatakan sebagai anggota HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Sewaktu mahasiswa ia pernah aktif di HMI.
Namun publik lebih mengenal Dedi Mulyadi sebagai penganut kepercayaan Sunda. Memang sempat viral video yang memperlihatkan prosesi ritual Dedi Mulyadi dengan kereta kencana serta simbol-simbol tradisi.
Majalah Tempo edisi 19-25 Mei 2025 yang berjudul “Habis Mulyono Terbitlah Mulyadi” melaporkan bahwa Dedi Mulyadi selain mengoleksi tiga kereta kencana juga memajang lukisan Nyai Ratu Kidul atau Nyai Roro Kidul berselendang kuning dan berbalut jarik di kediamannya di Lembur Pakuan Desa Sukasari, Dawuan, Subang, Jawa Barat. KDM juga mengoleksi gamelan dan senjata api.
Yang menarik, ketika menjabat presiden, Jokowi meminjam kereta kencana milik KDM itu sejak tahun 2016. Saat itu Dedi Mulyadi masih menjabat Bupati Purwakarta. Kereta kencana buatan tahun 2008 itu dibawa menuju istana negara Jakarta dengan pengawalan ketat TNI bersenjata lengkap pada Kamis 10 Agustus 2023.
Untuk apa? Jokowi menggunakan kereta kencana itu untuk acara HUT RI ke-71 di Istana Negara Jakarta, pada 17 Agustus 2016. Saat itu Ki Jaga Raksa digunakan Presiden Jokowi untuk membawa bendera pusaka dari Monas ke Istana Negara.
Pada 2022 saat upacara HUT RI ke-77 Presiden Jokowi kembali menggunakan kereta kencana tersebut. Kali ini untuk memeriahkan kirab bendera pusaka di Jakarta.
Pada tahun 2023 Presiden Jokowi juga menggunakan kereta kencana Ki Jaga Raksa. Saat itu untuk upacara HUT RI ke-78. Yaitu membawa Sang Saka Merah Putih pada peringatan kemerdekaan di Istana Merdeka.
Bayangkan, seorang presiden meminjam kereta kencana sampai berkali-kali kepada KDM. Jika tidak punya makna penting dan dipercaya memberi tuah untuk apa Presiden Jokowi meminjam kereta kencana sejak tahun 2016 hingga tahun 2023.
Jokowi dan KDM memang selalu menggunakan kereta kencana dalam acara politik penting. Ketika KDM mendaftar sebagai calon gubernur Jawa Barat pada 2024 juga menggunakan kereta kencana. Saat itu KDM mengenakan pakaian serba putih dan berkalung melati menunggang kuda yang menarik kereta kencana.
Ki Jaga Raksa sendiri berasal dari bahasa Sunda yang bermakna merawat rasa atau hati. Ki Jaga Raksa adalah simbol kepemimpinan dengan empati sosial yang tinggi. Ya, itulah salah satu kepercayaannya.
Alhasil, antara KDM, Gibran dan Jokowi bukan saja berada dalam satu visi politik tapi juga kepercayaan atau keyakinan yang sama. Yakni mistisisme politik Jawa dan Sunda. Maka pada Pilpres 2029 mereka sangat mungkin menjadi pasangan capres-cawapres. Apalagi Prabowo Subianto dikabarkan sudah mengantongi tiga nama cawapres yang semuanya berbackground militer. Yaitu Teddy Indra Wijaya (Sekretaris Kabinet), Sugiono (Sekjen Gerindra) dan Sudaryono (Kepala Badan Gizi Nasional).
Memang selama dua tahun berkuasa, Presiden Prabowo menganak-emaskan militer. Pos-pos strategis pemerintahan yang sejatinya porsi sipil justeru banyak diisi oleh koleganya dari militer.
Pada sisi lain Jokowi juga sudah melakukan pendekatan politik dengan KDM. Tak heran jika Dedi Mulyadi sekarang pasang badan membela Gibran saat wapres tersebut terpuruk secara legitimasi politik. Pertanyaannya, dengan putusan MK yang telah mengungkap kasus ijazah Gibran yang konsekuensinya disebut tak memenuhi syarat, apakah Jokowi dan Gibran masih bersikeras maju capres atau cawapres.
Kita tunggu saja kepiawaian politik Jokowi selanjutnya. Masihkah Jokowi sakti? Wallahua’lam bisshawab.










