Terowongan Lampegan hingga Sasaksaat, Jejak Infrastruktur Kereta Bersejarah

BANGSAONLINE.com - KAI mengungkap keberadaan 10 terowongan kereta api tertua di Pulau Jawa dan Sumatra yang mulai dibangun sejak 1879. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan transportasi rel di Indonesia serta mencerminkan kemajuan teknologi pada masanya.

Menurut informasi yang diterbitkan pada Rabu (21/10/2026), Terowongan Lampegan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tercatat sebagai terowongan kereta api tertua dengan panjang historis mencapai 686 meter. Sementara Terowongan Sasaksaat di Jawa Barat dikenal sebagai terowongan terpanjang dengan bentang mencapai 949 meter.

VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyebut pembangunan terowongan kereta api pada masa lalu memerlukan proses yang panjang dan penuh tantangan karena harus menyesuaikan dengan kondisi geografis yang sulit.

“Kalau sekarang kita melihat kereta api melewati terowongan, mungkin yang terpikir hanya jalur yang menembus bukit. Padahal, lebih dari satu abad lalu, membangun terowongan membutuhkan proses yang sangat panjang," ucapnya.

"Ada perhitungan teknik, penggalian batuan, dan pekerjaan yang harus dilakukan dalam kondisi geografis yang sulit. Sejarah tersebut menarik untuk dipelajari karena memperlihatkan perkembangan pengetahuan dan teknologi pada zamannya,” paparnya menambahkan.

Di Jawa Tengah, Terowongan Ijo Lama di Kabupaten Kebumen dengan panjang 580 meter menjadi salah satu infrastruktur yang mendukung mobilitas masyarakat di kawasan selatan Pulau Jawa.

Sementara di Sumatra Barat, pembangunan Terowongan Kupitan sepanjang 600 meter dan Terowongan Lubang Kalam sepanjang 828 meter memiliki peran penting dalam mendukung distribusi komoditas dan aktivitas ekonomi pada masa lalu.

Jalur kereta di kawasan Lembah Anai, Sumatra Barat, juga dikenal karena penggunaan teknologi rel bergigi untuk melintasi medan yang memiliki kemiringan curam. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu contoh adaptasi teknologi perkeretaapian terhadap kondisi geografis Indonesia.

Di Jawa Timur, terdapat Terowongan Garahan dan Terowongan Mrawan yang berada di kawasan Gunung Gumitir. Kedua terowongan tersebut hingga kini masih menjadi bagian dari lintas kereta api yang menghubungkan sejumlah wilayah di ujung timur Pulau Jawa.

Anne menjelaskan, sejarah pembangunan terowongan kereta api tidak hanya berkaitan dengan transportasi, tetapi juga mencakup aspek geologi, teknik sipil, serta perkembangan sosial ekonomi masyarakat pada masa itu. Salah satu terowongan bersejarah yang kini sudah tidak digunakan adalah Terowongan Batulawang sepanjang 281,5 meter di jalur Banjar-Cijulang.

“Dari terowongan di Jawa hingga jalur pertambangan bersejarah di Sumatra, kita dapat melihat bagaimana pembangunan transportasi pada masa lalu berkaitan dengan perkembangan teknologi dan ekonomi dunia," ujarnya. 

"Ada pula cerita sosial yang perlu dipahami secara utuh. Kami berharap warisan perkeretaapian ini terus menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah Indonesia dari berbagai sudut,” imbuhnya.

Sementara itu, Executive Vice President Corporate Secretary KAI, Wisnu Pramudya, menilai warisan sejarah perkeretaapian memiliki nilai edukatif yang penting bagi generasi muda. Menurut dia, perkeretaapian nasional telah melalui perjalanan panjang selama 159 tahun hingga 2026.

“Sejarah perkeretaapian Indonesia menyimpan banyak pengetahuan yang masih relevan untuk dipelajari. Melalui arsip, dokumentasi, museum, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, KAI ingin membantu masyarakat mengenal perjalanan teknologi transportasi dari masa ke masa. Setiap peninggalan mempunyai cerita, dan cerita itu patut diteruskan kepada generasi berikutnya,” kata Wisnu. (rom)