Ajak Balas Jasa 40 Ribu Korban Pertempuran 10 November, Kiai Asep: Kita Harus Bangun 4 Pilar

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com-Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto terasa khidmat. Acara yang digelar di Student Center Amanatul Ummah itu diikuti ribuan santri dengan pembicara tunggal Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA.

Kiai Asep mengingatkan bahwa HSN tak lepas dari peran besar Hadratussyaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari dalam pertempuan 10 November 1945. Ia mengungkapkan bahwa saat itu Kota Surabaya diserang oleh tentara sekutu dengan senjata modern, sedangkan senjata bangsa Indonesia sangat terbatas. Bahkan banyak yang masih memakai bambu runcing.

“Tapi ada kekuatan dahsyat yang bisa mengalahkan tentara sekutu,” tegas Kiai Asep Saifuddin Chalim di depan ribuan para santrinya, Kamis (22/10/2026).

Apa itu? “Resolusi Jihad,” jelas putra KH Abdul Chalim, salah seorang kiai pendiri NU yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2023.

Resolusi Jihad adalah fatwa Hadratussyaikh yang dirumuskan bersama para ulama pendiri NU. Isinya bahwa membela dan mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia hukumnya fardhu 'ain bagi semua orang Islam yang berada dalam radius 94 kilometer, dan fardhu kifayah bagi yang berada di luar radius tersebut.

Fatwa Resolusi Jihad itu dicetuskan pada 21-22 Oktober 1945 dalam rapat besar konsulat NU dari seluruh Jawa dan Madura di Surabaya. Resolusi Jihad juga menghukumi mati syahid bagi mereka yang gugur dalam perang membela tanah air.

Menurut Kiai Asep, Resolusi Jihad itulah yang membakar semangat para santri, kiai, dan masyarakat bergabung dalam laskar perjuangan seperti Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

“Masyarakat merasa gagah dan senang hati. Mereka habis-habisan menyerang tentara sekutu,” ujar Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, saat itu Bung Karno dan Bung Hatta tak setuju melakukan perlawanan secara fisik. Dua tokoh itu beralasan akan banyak korban. Mereka maunya diplomasi atau berunding.

Tapi Hadratussyaikh tetap bersikukuh melakukan klais fisik. Alasannya, jika mereka dilawan lewat perundingan politik pasti kalah. Selain itu, saat itu jumlah bangsa Indonesia 70 juta, sedangkan Belanda hanya 5 juta, termasuk warga Belanda di negaranya.

“Jenderal Soedirman setuju keputusan Hadratussyaikh,” ujar Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, ketika Bung Tomo tanya, kapan kita akan menyerang, Hadratussyaikh menjawab, “Tunggu kedatangan Kiai Abbas Abdul Djamil dari Cirebon.”

Kiai Abbas Abdul Jamil tiba di Pesantren Tebuireng 9 Nopember 1945.

“Kita akan menyerang besok, 10 November, sehabis Subuh,” kata Kiai Abbas seperti ditirukan Kiai Asep.

Pagi-pagi Kiai Abbas yang diikuti para santri Tebuireng berangkat ke Surabaya naik kereta api Ekspres.

“Kiai Abbas langsung menuju Surabaya tengah, mungkin di kawasan Jalan Raya Darmo. Sedangkan tiga santri Tebuireng menculik Jenderal Mallaby,” ujar Kiai Asep sembari mengatakan bahwa nama tiga santri Tebuireng itu dirahasiakan bertahun-tahun. Surat yang berisi nama mereka baru dibuka setelah mereka meninggal dengan alasan keamanan.

Perang berkobar sampai 20 November. “Korban meninggal mencapai 30 ribu hingga 40 ribu, mayat-mayat mereka bergelimpangan di sungai Kali Mas,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu.

“Dari mana infomasinya? Dari surat kabar The New York Times, yang terbit pada 12 November 1945,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

The New York Times adalah koran Amerika Serikat. Terbit sejak 18 September 1851 (barusia 170 tahun) dan hingga sekarang tetap eksis.

Menurut Kiai Asep, bangsa Indonesia punya hutang jasa besar terhadap para korban itu. Mayoritas mereka adalah santri atau umat Islam. “Karena itu kita harus balas jasa atas pengorbanan mereka,” ujar Kiai Asep.

Caranya? Pertama, berdoa, siapapun yang berkhianat dan merusak NU dan Indonesia semoga segera dihancurkan oleh Allah SWT. Kiai Asep menyerukan kepada semua umat Islam – termasuk santri – agar membaca Hizbun Nashor tiap hari, terutama usai Subuh. Menurut Kiai Asep, dulu Hadratussysikh juga mengamalkan Hizbun Nashor saat melawan penjajah.

“Ini yang diamalkan dan diijazahkan Hadratussyaikh,” ujar Kiai Asep yang kemudian memimpin pembacaan Hizbun Nashor, surat fatihah, surat Ikhlas dan surat Al Fiil masing-masing tiga kali.

Kedua, menurut Kiai Asep, pesantren harus melahirkan empat pilang bangsa. Pertama, imuwan dan ulama besar yang bisa menerangi dunia, terutama Indonesia. Kedua, pemimpin besar yang bisa menegakkan keadilan dan menyejahterakan rakyat. Ketiga, memperbanyak lahirnya konglomerat besar yang berorientasi pada penyejahteraan rakyat.

“Bukan konglomerat seperti sekarang ini. Konglomerat sekarang ini oligarki. Kita harus menumbuhkan konglomerat yang peduli pada rakyat,” ujarnya.

Keempat, menurut Kiai Asep, kita harus mencetak professional yang berkualitas dan bertanggungjawab.

Menurut Kiai Asep, jika kita sukses menumbuhkan empat pilar ini, maka kita bisa membalas jasa para pahlawan kemerdekaan kita, terutama 40 ribu korban pertempuan 10 November 1945 Kota Surabaya. Sebab di bawah kepemimpinan empat pilar inilah cita-cita luhur kemerdekaan RI terwujud, yakni terciptanya Indonesia maju, adil dan makmur.