SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Ketua Tim Kerja Pembinaan Aparatur dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, Widagdo Endang Suroso, turut hadir dalam acara Maiyah edisi Oktober yang berlangsung di Stikosa AWS, Senin (26/10/2026).
Dalam pemaparannya, Pak Widagdo, sapaannya, mengajak masyarakat untuk lebih peduli dalam urusan sehari-hari, demi memitigasi kebakaran, khususnya di lingkup rumah.
Dia menyampaikan bahwa risiko kebakaran tidak hanya terjadi saat musim kemarau atau hujan, tapi kesalahan tiap personal dalam aktivitas sehari-hari pun juga dapat memicu kebakaran, seperti tidak mencabut kabel kipas angin saat sudah tidak digunakan.
Ia mengimbau agar masyarakat selalu melepas kabel jika sudah tidak menggunakan peralatan elektronik, termasuk magicom hingga kabel charger.
“Lepas semua kabel listrik, termasuk kipas angin, walau sudah off, karena selama kabel masih menancap, masih ada aliran listrik walau sedikit. Kemudian charger, siapa di sini yang selalu nyolokin charger walau tidak dipakai? Wis charger gak ori, jek mancep terus,” ucap Widagdo sembari disambut tawa hadirin.
“Magicom kalau ditinggal luar kota juga harus dilepas kabelnya. Kalau sayang nasinya takut basi, wes nasinya dibawa sekalian, buat bekal,” imbuhnya.
Selain itu, Widagdo juga menyampaikan bagaimana cara merawat kompor Liquefied Petroleum Gas (LPG), termasuk jika terjadi kebocoran atau kendala lainnya.
Menurut Ketua Tim Kerja Pembinaan Aparatur dan Pemberdayaan Masyarakat DPKP Surabaya tersebut, salah satu hal krusial yang selalu disepelekan para ibu-ibu rumah tangga adalah selang gas yang minim perawatan.
Ia menuturkan bahwa bagian yang paling rawan pada selang gas adalah bagian ujung dekat kompor, karena selalu terkena panas dan minyak, sehingga karet mudah rusak dan harus diganti secara berkala.
“Mungkin solusi jenengan cuma memotong bagian ujungnya, eman, Pak, jek dowo. Iya memang masih bagus, tapi semakin di potong kan gas LPG-nya semakin dekat dengan kompor, semakin panas,” jelasnya.
“Ini kita bicara mitigasi,” tambahnya.
Jika sudah terjadi kebocoran, lanjut Widagdo, langkah yang harus dilakukan pertama-tama adalah membuka semua pintu rumah, agar gas tidak mengendap di satu ruangan.
Menurutnya, gas LPG seharusnya ada di luar, karena gas akan menjadi netral jika terkena udara di luar, sehingga tidak terjadi ledakan seperti yang sering terjadi akibat gas di taruh di dalam ruangan.
“Gas iku amane nang njobo. Nek kene nang jobo opo njero? Iyo soale nek nang jobo ilang, hahaha. (Gas itu amannya di luar. Kalau kita di luar atau dalam? Iya karena kalau diluar langsung hilang),” ucapnya lagi.
Langkah berikutnya, lanjut Widagdo lagi, jangan menyalakan listrik, karena ada percikan api walau kecil. Kemudian langkah ke tiga cabut regulator dan tabung bawa ke luar rumah.
“Bahaya, loh, gas LPG itu. Sama dengan bom waktu kalau kita tidak merawatnya (mengganti selang secara berkala),” pungkas Widagdo. (msn)










