KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Pemkab Kediri bersama TNI dan Polri memetakan 14 kecamatan yang berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi selama musim hujan. Potensi bencana yang diantisipasi meliputi tanah longsor, banjir, serta angin puting beliung dan pohon tumbang.
Berdasarkan hasil pemetaan, wilayah yang masuk kategori rawan tanah longsor meliputi Kecamatan Ngancar, Plosoklaten, Puncu, Kepung, dan Kandangan. Sementara potensi banjir diidentifikasi di Kecamatan Plosoklaten, Pare, Badas, dan Kunjang.
Adapun ancaman angin puting beliung, serta pohon tumbang diperkirakan berpotensi terjadi di Kecamatan Kunjang, Purwosari, Plemahan, dan Papar.
Pemetaan tersebut disampaikan Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, ketika Apel Kesiapsiagaan Tanggap Bencana 2026 yang digelar di Sempu Exotic Park, Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Rabu (4/11/2026).
Ia menjelaskan, apel kesiapsiagaan merupakan bentuk sinergi antara pemerintah daerah setempat, Polres Kediri, Kodim 0809/Kediri, dan berbagai instansi terkait dalam menghadapi potensi bencana selama musim penghujan.
Menurut dia, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesiapan, mulai dari penyiagaan personel, penyediaan sarana dan prasarana, hingga simulasi penanganan keadaan darurat.
"Forkopimda Kabupaten Kediri tentunya siap mem-backup apabila terjadi bencana. Kami juga sudah mempersiapkan personel, sarana, dan seluruh elemen terkait," kata Dewi.
Selain kesiapan petugas, Pemkab Kediri mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Warga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan saat cuaca memburuk guna mengurangi risiko akibat sambaran petir maupun pohon tumbang.
Wakil Bupati Kediri juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari mitigasi bencana. Masyarakat diminta membersihkan saluran air, sungai, serta lingkungan permukiman untuk mencegah penyumbatan yang dapat memicu banjir dan genangan.
"Mulai dari keluarga, lingkungan RT, sampai sungai-sungai di sekitar kita perlu dijaga kebersihannya. Ini harus diantisipasi sejak dini," tuturnya.
Pemkab Kediri berharap penguatan koordinasi lintas sektor dan meningkatnya kesadaran masyarakat dapat menekan risiko serta dampak bencana hidrometeorologi selama musim penghujan.
Sementara itu, Kapolres Kediri, AKBP Muhammad Wahyudin Latif, menyebut pihaknya menyiapkan sekitar 500 personel dalam kegiatan kesiapsiagaan tersebut. Penanganan bencana juga melibatkan BPBD, Kodim 0809 Kediri, Satpol PP, Taruna Siaga Bencana (Tagana), relawan, dan berbagai elemen masyarakat.
Sebagai bagian dari sistem respons cepat, posko penanganan darurat disiagakan selama 24 jam untuk memantau situasi dan menerima laporan masyarakat dari wilayah rawan bencana.
"Kami sudah menyiapkan posko-posko di wilayah rawan, baik dari Pemkab, BPBD, Kodim, maupun Polres. Semuanya disiagakan selama 24 jam," kata Kapolres Kediri.
Menurut dia, keberhasilan penanganan bencana sangat bergantung pada pemahaman petugas terhadap standar operasional prosedur (SOP), termasuk dalam menentukan prioritas evakuasi. Penanganan tak berhenti pada fase tanggap darurat, tapi berlanjut hingga proses pemulihan dan pendampingan psikologis bagi warga terdampak. (uji/mar)










