PPIH Siagakan 5 Pos Layanan di Masjid Nabawi, Antisipasi Jemaah Haji Indonesia Tersesat

Ringkasan Berita
  • Sektor Khusus Nabawi menyiagakan petugas PPIH di lima pos layanan di pelataran Masjid Nabawi untuk memaksimalkan pelayanan kepada jemaah haji Indonesia. Kelima pos tersebut tersebar di pintu-pintu gerbang utama masjid.
  • Kasus jemaah tersesat atau terpisah rombongan sudah berkurang, namun petugas tetap mewaspadai jemaah yang nekat ke Masjid Nabawi saat jadwal pendorongan ke Makkah dan lupa jalan pulang. Untuk antisipasi, petugas juga disiagakan di sekitar masjid saat pendorongan berlangsung.
  • Setiap pos layanan menyediakan sandal cadangan untuk mencegah jemaah mengalami luka melepuh akibat panas, yang dapat mengganggu pelaksanaan ibadah utama haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).
  • Petugas yang berjaga berasal dari tiga unsur layanan: perlindungan jemaah (linjam), layanan lansia dan disabilitas (landis), dan Tim Penanganan Krisis (PKP3JH). Seluruh petugas menerapkan prinsip multitasking dalam melayani jemaah.
  • Kepala Sektor mengimbau jemaah yang masih di Madinah untuk mempersiapkan diri, menjaga kesehatan, dan tidak memaksakan aktivitas berlebihan karena ibadah pokok di Armuzna membutuhkan kondisi fisik yang prima.

MADINAH,BANGSAONLINE.com - Sektor Khusus Nabawi menyiagakan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di lima pos layanan yang tersebar di pelataran Masjid Nabawi untuk memaksimalkan pelayanan kepada jemaah haji Indonesia.

Adapun lokasi lima pos pelayanan di halaman Masjid Nabawi ini, yaitu pos 1 berada di dekat pintu gerbang nomor 336.

Kemudian untuk pos 2 di dekat pintu 328, lalu di pintu 310 untuk pos 3, selanjutnya pos 4 di pintu 365, dan terakhir pos 5 di pintu 360.

Keberadaan petugas yang tersebar di lima pos ini untuk memaksimalkan pelayanan kepada jemaah haji Indonesia ketika berada di Masjid Nabawi.

Kepala Sektor Khusus Nabawi, Muhammad Thoriq, mengatakan kasus jemaah tersasar maupun terpisah dari rombongan mulai berkurang.

Namun, petugas masih mewaspadai jemaah yang nekat menuju Masjid Nabawi saat jadwal pendorongan ke Makkah.

Pendorongan jemaah haji Indonesia dari hotel di Madinah menuju Makkah telah diatur sesuai jadwal, mulai dari persiapan hingga keberangkatan.

"Ada hal yang masih diwaspadai yakni jemaah yang saat pendorongan masih ada yang nekat ke Masjid Nabawi. Kemudian setelah itu mereka lupa jalan pulang. Permasalahan ini juga jadi keluhan yang paling sering ditemui oleh petugas Seksus Nabawi," ungkap Thoriq kepada Media Center Haji, Sabtu (9/5/2026).

Karena itu, petugas disiagakan di sekitar Masjid Nabawi untuk mengantisipasi adanya jemaah yang tercecer saat jadwal pendorongan berlangsung.

"Nah, ini yang menjadi problem sebenarnya, tetapi sejauh ini persoalan tersebut sangat minimalis,” ujarnya.

Selain mengantisipasi jemaah tersasar, Seksus Nabawi juga mewaspadai jemaah yang lupa menaruh sandal sehingga berpotensi mengalami luka melepuh akibat panas.

Untuk mengatasi hal tersebut, setiap pos layanan menyediakan sandal cadangan bagi jemaah.

“Kita di setiap pos-pos selalu menyediakan sandal cadangan untuk para jemaah supaya kaki mereka tidak melepuh, yang kemudian akan merugikan mereka ketika akan melaksanakan ibadah utama haji, yaitu di Armuzna nanti,” kata Thoriq.

Menjelang kedatangan jemaah haji gelombang berikutnya usai Armuzna, Thoriq menyebut tidak ada perbedaan karakteristik khusus dibandingkan jemaah gelombang pertama.

Ia mengatakan persoalan yang dihadapi diperkirakan tetap sama.

“Permasalahannya juga pasti sama, yaitu antara lain lupa jalan pulang, terpisah rombongan, kemudian lupa menaruh sandal, barang-barang yang tercecer, dan sebagainya,” ujarnya.

Thoriq mengimbau jemaah yang masih berada di Madinah agar mempersiapkan diri menjelang keberangkatan ke Makkah.

Jemaah juga diminta menjaga kondisi kesehatan dan tidak memaksakan aktivitas berlebihan.

"Karena ibadah pokok nanti di Armuzna itu sangat membutuhkan kekuatan fisik dan kesehatan yang prima,” cetus Thoriq.

Diketahui, petugas yang berjaga di setiap pos Masjid Nabawi berasal dari berbagai unsur layanan.

Petugas terdiri atas unsur perlindungan jemaah (linjam), layanan lansia dan disabilitas (landis), serta Tim Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP3JH).

Seluruh petugas menerapkan prinsip multitugas dalam memberikan pelayanan kepada jemaah.

"Bagi siapapun yang berada di lokasi pos, apakah tusi linjam, tusi PKP3JH, maupun tusi landis, semuanya sama-sama melayani jemaah," pungkasnya. (msn/van)