Ringkasan Berita
- Total hadiah sayembara pencarian bukti ijazah SMA Wakil Presiden Gibran kini mencapai Rp1,153 miliar setelah mendapat tambahan dana Rp100 juta dari Forum Purnawirawan Pejuang TNI (FPP TNI).
- Sayembara ini digagas oleh Prof. Denny Indrayana karena upaya hukum dan desakan kepada DPR untuk verifikasi ijazah Gibran dinilai tidak membuahkan hasil, sehingga dianggap sebagai cara memecah kebuntuan.
- Denny mempertanyakan mengapa Gibran terbuka menunjukkan ijazah S1 namun tidak untuk ijazah SMA, serta menekankan esensi sayembara adalah mendorong transparansi dan kepatuhan aturan dalam kontestasi pilpres.
- Masyarakat yang ingin menambah dana sayembara tidak perlu menyetor langsung; cukup dicatat namanya dan nilai sumbangannya, dengan privasi dijamin bagi yang menginginkannya.
- Denny menantang Gibran dan pendukungnya untuk segera menunjukkan dokumen asli ijazah SMA/sederajat sebagai langkah sederhana mengakhiri polemik.
JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Forum Purnawirawan Pejuang TNI (FPP TNI) resmi memberikan suntikan dana sebesar Rp100 juta untuk sayembara pencarian bukti ijazah SMA atau sederajat milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dengan tambahan tersebut, total hadiah dalam sayembara yang digagas oleh Prof. Denny Indrayana ini kini melonjak hingga Rp1.153.050.000.
Dukungan finansial tersebut disampaikan langsung oleh Laksamana Pertama TNI (Purn) Moeryono Aladin. Ia menegaskan bahwa partisipasi FPP TNI merupakan bentuk dorongan agar pembuktian riwayat pendidikan Gibran bisa segera dilakukan secara transparan.
"Kami dari FPP TNI menambah Rp100 juta," ujar Moeryono, dikutip dari tayangan kanal YouTube Denny Indrayana, Rabu (19/8/2026).
Menanggapi dukungan tersebut, Denny Indrayana menjelaskan bahwa inisiatif sayembara ini terpaksa digulirkan karena berbagai langkah hukum dan desakan kepada DPR terkait verifikasi kelengkapan ijazah Gibran tidak membuahkan hasil.
"Jadi sayembara ini adalah cara untuk memecah kebuntuan," tegas Denny.
Ia pun mempertanyakan lambannya transparansi terkait dokumen pendidikan tingkat menengah tersebut. Pasalnya, Gibran sebelumnya pernah mengundang wartawan secara terbuka untuk membuktikan keabsahan gelar sarjananya.
"Waktu S1 bisa ditunjukkan, kenapa SMA tidak," sentilnya.
Saat ini, Denny masih membuka ruang bagi masyarakat luas yang ingin berpartisipasi menambah nominal sayembara. Untuk melindungi privasi para pendukung, ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menyetorkan uangnya secara langsung saat ini.
"Saya akan catat saja namanya dan nilai sumbangannya. Kalau purnawirawan terbuka, tapi kalau yang lain ingin privasi, tidak perlu kirim dana dan nama. Jadi kita tetap catat saja," paparnya.
Lebih lanjut, Denny menggarisbawahi bahwa esensi dari sayembara ini bukan sekadar urusan nominal hadiah, melainkan upaya memantik kepedulian publik terhadap kepatuhan aturan main dalam kontestasi pemilihan presiden. Ia menolak keras segala bentuk manipulasi syarat pencalonan.
"Agar banyak pihak terlibat memikirkan hal penting ini. Menjaga aturan main kontestasi pilpres agar dihormati, tidak diakali. Syarat umur sudah diakali, mosok syarat pendidikan diakali lagi?" cecarnya.
Sebagai penutup, ia kembali menantang Gibran dan pihak-pihak yang membelanya untuk segera menuntaskan polemik ini dengan cara yang sederhana, yakni menunjukkan dokumen aslinya.
"Minta mereka dan Mas Gibran tunjukkan saja ijazah SMA/sederajat tersebut, sebagaimana Gibran pernah terbuka mengundang wartawan dan menunjukkan ijazah S1-nya. Kalau memang ada, kenapa dipersulit?" pungkas Denny.










