SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Sekitar 250 warga NU Kecamatan Gubeng Kota Surabaya mengikuti acara Sarasehan Santri 2026 di Aula Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di kawasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Surabaya, Jumat 23 Oktober 2026. Acara yang digelar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Gubeng itu menghadirkan Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto sebagai keynote speaker.
Acara yang digelar dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) itu juga menghadirkan Prof H Usep Abdul Matin, PhD, MA, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) serta Yahya Muhammad dari Gresik.
Kiai Asep banyak melakukan flash back perjuangan para pendiri NU dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945. Menurut Kiai Asep, saat itu Indonesia baru tiga bulan merdeka, yaitu pada 17 Agustus 1945. Tapi pada 10 November 1945 harus bertempur kembali melawan tentara sekutu, terutama Inggris dan Belanda, yang ingin menjajah kembali Indonesia.
Kiai Asep juga mengungkap bahwa peran kiai dan santri dalam pertempuran 10 November Surabaya sangat besar. Bahkan Hadratussyaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri NU, yang menentukan perang fisik melawan datangnya kembali tentara sekutu di kota Surabaya. Bung Karno dan Bung Hatta, tegas Kiai Asep, lebih memilih jalur diplomasi dalam melawan tentara sekutu di Kota Surabaya.
Sebaliknya, tutur Kiai Asep, Hadratussyaikh justeru memilih klais fisik ketimbang jalur perundingan. Menurut Kiai Asep, Jenderal Soedirman dan Bung Tomo mendukung keputusan Hadratussyaikh.
Menurut Kiai Asep, untuk melanjutkan perjuangan para kiai, maka ke depan harus menciptakan empat pilar bangsa. Pertama, menciptakan ulama dan ilmuwan besar yang bisa merangi dunia yang pemikirannya dijadikan referensi pemerintah.
Kedua, menciptakan pemimpin besar yang punya komitmen pada kaidah tasharruful imam 'ala ar-ra'iyyah manuthun bil mashlahah. Bahwa kebijakan seorang pemimpin harus diorientasikan kepada kemaslahatan rakyatnya.
Ketiga, menciptakan konglomerat besar yang dermawan dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. “Bukan oligarki seperti sekarang,” ujarnya.
Keempat, menciptakan professional yang berkualitas dan bertanggungjawab.
Sementara Prof Usep Abdul Matin banyak membahas tentang mudarah, konsep moderasi dalam beragama yang dikembangkan KH Abdul Chalim. Menurut Prof Usep, Kiai Abdul Chalim semula mengumpulkan pidato HOS Tjokroaminoto untuk dibukukan. Dari situ Kiai Abdul Chalim tahu bahwa Tjokroaminoto berpaham khilafah.
Prof Usep menjelaskan bahwa Tjokroaminoto memang terpengaruh dengan Pan-Islamisme, suatu gagasan penyatuan umat Muslim sedunia yang dipelopori Jamaluddin al-Afghani. Pan-Islamisme merupakan ideologi Islam yang melampaui batas etnis dan bangsa. Gagasan utamanya menyatukan umat Islam se-dunia.
Kiai Abdul Chalim kemudian keluar dari barisan Tjokroamonoto. Karena Kiai Abdul Chalim lebih condong pada negara kebangsaan atau nation state.
Menurut Kiai Asep, Kiai Abdul Chalim, mengumpulkan pidato Tjokroaminoto dalam rangka membahas ideologi atau pemikiran Tjokroaminoto. Karena itu ayahandanya itu menulis kata pengantar terhadap kumpulan pidato Tjokroaminoto yang dibukukan itu.
“Tak lama kemudian Kiai Abdul Chalim mendeklarasikan paham mudarah,” kata Prof Usep.
Pada akhir acara Kiai Asep mengajak perserta sarasehan untuk membaca hizbun nashor.
“Mari kita berdoa semoga orang yang mengkhianati dan merusak Indonesia dan NU segera dihancurkan oleh Allah SWT,” ujar Kiai Asep yang langsung diamini secara bergemuruh.










