JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Pegiat media sosial Hasyim Muhammad menyoroti sulitnya masyarakat mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar.
Ia menduga kondisi tersebut dapat mendorong masyarakat beralih ke bahan bakar nonsubsidi.
Menurutnya, pemerintah diduga menerapkan cara tidak langsung untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi, yakni dengan membuat akses masyarakat terhadap bahan bakar tersebut semakin sulit.
"Saya sudah pernah bertanya: Harga Pertalite dan Biosolar sampai kapan pemerintah kuat menahan? Tapi ternyata trik pemerintah adalah dengan menyulitkan para pembeli BBM bersubsidi," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Kamis (15/10/2026)
Hasyim menilai kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai dari distribusi yang melambat, pelayanan yang dinilai kurang optimal, antrean panjang di SPBU, hingga pengurangan kuota BBM bersubsidi.
"Menyulitkan bisa dengan berbagai cara: Distribusi yang diperlambat, cara jualan yang setengah hati, antriannya disengaja supaya panjang, malam hari SPBU tutup, atau bahkan kuotanya dikurangi. Pada akhirnya banyak warga terpaksa beli yang non-subsidi. Itu semacam jadi metode untuk mempertahankan kebijakannya," imbuhnya.

Selain menyampaikan kritik tersebut, Hasyim mengunggah foto pemberitaan Jawa Pos edisi 14 Oktober 2026 yang menyoroti antrean pembelian Pertalite di Bali hingga tiga jam untuk mendapatkan tiga liter BBM.
Ia juga membagikan video yang memperlihatkan ratusan pengendara sepeda motor mengantre di sebuah SPBU. Video tersebut menggambarkan kepadatan pembeli BBM di lokasi tersebut.
Meski demikian, dugaan mengenai strategi pemerintah yang disampaikan Hasyim merupakan pandangannya.
Kondisi antrean dan sulitnya memperoleh BBM bersubsidi dalam unggahan tersebut belum dengan sendirinya membuktikan adanya kebijakan yang sengaja dirancang untuk mengalihkan konsumen ke BBM nonsubsidi.










