Pasokan Pertalite di Jember Surplus 31 Persen, Diskopumdag Minta Warga Tak Panic Buying

JEMBER,BANGSAONLINE.com - Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Jember dipastikan masih mencukupi kebutuhan masyarakat, meski antrean kendaraan masih terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskopumdag) Jember, Sartini mengatakan, pasokan dari depo Pertamina Banyuwangi dan Surabaya masih mampu memenuhi kebutuhan BBM masyarakat. 

Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, pengiriman Pertalite tercatat melampaui rata-rata konsumsi harian.

Berdasarkan data yang diterimanya, kebutuhan Pertalite di Jember rata-rata mencapai 570 kiloliter per hari.

Sementara itu, pada 14 Oktober 2026, pasokan yang tercatat mencapai 744 kiloliter, termasuk tambahan 344 kiloliter yang masih dalam perjalanan dari depo.

Dengan demikian, total pasokan Pertalite pada hari tersebut mencapai sekitar 131 persen dari kebutuhan harian, atau surplus sekitar 174 kiloliter.

“Artinya, kemarin pun sebenarnya kita surplus sekitar 31 persen atau ada kelebihan 174 kiloliter,” ujar Sartini.

Tren pasokan di atas kebutuhan harian juga terlihat sejak 9 Oktober 2026. Pada tanggal tersebut, pengiriman Pertalite mencapai 640 kiloliter, kemudian 592 kiloliter pada 10 Oktober, 616 kiloliter pada 11 Oktober, 672 kiloliter pada 12 Oktober, dan 600 kiloliter pada 13 Oktober.

Seluruh volume pengiriman tersebut berada di atas rata-rata kebutuhan harian Pertalite di Jember yang mencapai 570 kiloliter.

Meski pasokan dinilai mencukupi, antrean kendaraan di sejumlah SPBU belum sepenuhnya teratasi. Sartini menjelaskan, kondisi geopolitik global turut memengaruhi situasi energi. Selain itu, kenaikan harga Pertamax diduga mendorong sebagian konsumen beralih menggunakan Pertalite.

“Penyebabnya juga pengguna Pertamax yang beralih ke Pertalite karena ada kenaikan harga di jenis BBM Pertamax,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Sartini mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying.

Terlebih, Pertalite dan Biosolar merupakan BBM bersubsidi yang penyalurannya dibatasi oleh kuota.

Menurutnya, pembelian di luar kebutuhan serta praktik penimbunan berisiko mempercepat habisnya kuota subsidi yang tersedia. Karena itu, masyarakat diminta membeli BBM secara wajar sesuai kebutuhan.

“Kalau suplai terus digenjot, tetapi masyarakat terus menimbun, subsidi juga ada batasnya. Kalau habis di bulan-bulan sekarang, bisa jadi dua bulan berikutnya kita kehabisan subsidi. Ini yang harus diketahui masyarakat,” pungkasnya. (yud/van)