MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com-Lapangan Student Center Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur dipenuhi ribuan calon santri dan wali santri pada Ahad 25 Oktober 2026 pagi. Mereka datang dari berbagai daerah seluruh Indonesia.
Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, jumlah mobil parkir meluap ke jalan raya karena lapangan parkir desa yang tersedia penuh. Untungya, jalan raya di sekitar Amanatul Ummah sudah diperlebar.
“Tahun ini (2026) jumlah santri baru memang lebih banyak dari tahun kemarin (2025),” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, kepada BANGSAONLINE seusai memberikan pengarahan di depan ribuan calon santri dan wali santri di Student Center Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Ahad (25/10/2026).
Menurut Kiai Asep, jumlah calon santri yang mengikuti tes seleksi masuk gelombang pertama ini saja sudah 1.350 orang. “Nanti akan ada gelombang kedua dan ketiga,” ujar Kiai Asep yang juga ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu).
Kiai Asep sebenarnya sedang mendapat somasi dari KH Miftachul Akhyar (kini Rais Aam Syuriah PBNU) dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul, sekarang Wakil Ketua Umum PBNU) gara-gara melakukan kritik keras terhadap dugaan risywah atau suap dalam proses pemilihan Rais Aam Syuriah PBNU dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang pada 27 – 31 Agustus 2026 lalu. Bahkan kabarnya Kiai Asep sudah dilaporkan ke Bareskrim Polri.
Tapi Kiai Asep tetap tenang. Putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU itu, justru sibuk mendidik dan mempersiapkan generasi unggul untuk masa depan bangsa.
“Indonesia negara kaya, tapi rakyatnya miskin, dan itu warga NU,” ujar Kiai Asep prihatin saat menyampaikan sambutan pengarahan di depan ribuan calon santri dan wali santri yang duduk memenuhi aula Student Center Amanatul Ummah.
Padahal, menurut Kiai Asep, para santri dan kiai NU yang banyak berkorban dan berada di garis paling depan saat rakyat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia mengambil contoh peristiwa pertempuran 10 November 2026 di Kota Surabaya yang kemudian dijadikan momentum sejarah Hari Santri Nasional (HSN).
“Saat itu kita baru merdeka, 17 Agustus 1945, tapi tentara sekutu, terutama Belanda, mau menjajah lagi bangsa Indonesia,” ujar kiai miliarder tapi dermawan itu sembari mengatakan bahwa kemerdekaan RI yang baru diraih tiga bulan itu hampir lepas kembali ke pangkuan penjajah.
Untungnya Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang telah mendirikan NU pada 1926 bersikap tegas menghadapi agresi para tentara sekutu itu. Menurut Kiai Asep, Hadratussyaikh tak mau kompromi melawan para tentara sekutu lewat klais fisik, meski Bung Karno dan Bung Hatta tak setuju dan menawarkan penyelesaian lewat jalan diplomatik karena takut korbannya besar.
Korban meninggal rakyat Indonesia – terutama santri dan umat Islam – memang tak terelakkan.
“Sekitar 30 ribu hingga 40 ribu mayat mereka mengambang di sungai Kalimas Surabaya,” ujar Kiai Asep. “Informasi itu dimuat di The New York Times, koran Amerika Serikat, yang terbit 12 November 1945, dua hari setelah peristiwa 10 November 1945,” ujarnya.
Karena itu, menurut Kiai Asep, ke depan pondok pesantren harus melakukan transformasi dengan cara melahirkan generasi unggul.
“Caranya kita mencetak empat pilar bangsa,” ujarnya.
Pertama, tegas Kiai Asep, pesantren dan NU harus melahirkan ulama dan ilmuwan besar yang bisa menerangi dunia, terutama Indonesia. Menurut Kiai Asep, ilmu mereka atau hasil riset dan penelitian mereka harus menjadi referensi para pimpinan pemerintahan sehingga tercipta kesejahteran dan kemakmuran atau kemaslahatan bagi bangsa dan negara Indonesia.
“Rakyat miskin di desa-desa bertanya dan menunggu kapan cita-cita luhur kemerdekaan terwujud. Karena mereka sampai sekarang tidak merasakan arti kemerdekaan yaitu terwujudnya masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur,” ujar Kiai Asep.
“Dan mereka itu warga NU, karena rakyat Indonesia ini mayoritas warga NU,” tegas Kiai Asep yang mendapat anugerah penghargaan Maha Putra Nararya dari Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta pada Senin 25 Agustus 2025.
Kedua, tegas Kiai Asep, pesantren harus melahirkan pemimpin besar yang bisa menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
“Pemimpin yang baik selalu berorientasi pada kaidah tasyarraful imam ‘alar ra’iyah manutun bil maslahah. Kebijakan seorang pemimpin harus berorientasi pada kemasalahatan rakyatnya,” ujar Kiai Asep.
Ketiga, tegas Kiai Asep, pesantren harus menciptakan konglomerat besar yang peduli terhadap nasib masyarakat atau bangsa. “Bukan konglomerat seperti sekarang. Itu oligarki,” ujar Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, konglomerat sekarang justeru melestarikan kemiskinan sistemik pada masyarakat Indonesia. “Anak-anak buruh nanti akan menjadi buruh lagi karena para konglomerat yang punya perusahaan atau pabrik tidak punya kepedulian untuk memberdayakan para buruh,” ujarnya.
Keempat, kata Kiai Asep, pesantren harus menciptakan para professional yang berkualitas dan bertanggungjawab.
Menurut Kiai Asep, empat pilar itu seharusnya menjadi perhatian dan tanggungjawab PBNU. Karena masyarakat yang sampai sekarang belum menikmai buah kemerdekaan itu adalah warga NU.
Tapi Kiai Asep menilai PBNU tampak tak punya perhatian dan kepekaan tentang nasib warga NU yang miskin. “Justru pengurus MWC NU dan ranting NU yang tulus mengurus warga NU di tingkat bawah. Kalau PCNU, PWNU, dan PBNU yang diurus lain,” ujarnya.
Menurut Kiai Asep, untuk memproduksi empat pilar bangsa itu, maka pesantren harus selalu meningkatkan kualitas para ustadz dan ustadzahnya. Guru yang baik, tutur Kiai Asep, adalah guru yang terus menerus meningkatkan kompetensi akademiknya.
“Guru harus memiliki tanggung jawab untuk mentransferkan muatan kurikulum kepada seluruh peserta didik secara tuntas. Tuntas muatan dan tuntas jangkauan. Artinya kepada semua murid, bukan hanya kepada murid yang pandai saja,” ujarnya.
Karena itu seorang guru tidak boleh berhenti menjelaskan sampai semua muridnya mengerti. Sebaliknya, murid juga tak boleh berhenti untuk bertanya sampai mengerti semua.
“Guru juga harus menjadi teladan moral. Disiplin,” ujarnya.
Selain itu guru juga harus memandang anak didiknya seperti anak kandung sendiri.
“Kata Nabi ana laka kalwalidi ilal waladi. Saya kepada kalian (para sahabat) seperti orang tua kepada anak,” tegas Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, guru juga harus selalu mendoakan para muridnya. Salah satu hikmahnya, jika seorang seorang guru mendoakan para muridnya, maka otomatis ia akan mendoakan anak-anak kandungnya sendiri.
Kiai Asep juga menjelaskan kunci sukses bagi para santri. Menurut dia, seorang santri harus melakukan tujuh kunci sukses. Pertama, aljiddu wal muwadabah.
“Yaitu ajeg dalam berkesungguhan,” ujarnya. Artinya, jangan hanya berkesungguhan sebulan atau dua bulan saja. Tapi setelah itu kendor dan leha-leha. Tapi harus selalu belajar secara serius dan sungguh-sungguh.
Kedua, kalau makan jangan sampai kenyang. “Karena kenyang itu menghilangkan kecerdasan,” ujarnya.
Ketiga, santri jika ingin sukses harus menjauhi maksiat. Karena maksiat itu akan menjadi beban terutama secara psikologis.
Keempat, santri harus mudawamatul wudlu (selalu punya wudlu). Artinya harus selalu dalam keadaan suci dari hadats.
“Karena wudlu itu cahaya. Begitu juga ilmu yang diterangkan oleh guru adalah cahaya. Ketika cahaya datang dan diterima oleh orang yang punya cahaya, maka akan mudah terserap,” ujarnya.
Kelima, membaca Al Quran sambil dilihat teksnya. Menurut Kiai Asep, orang yang membaca Al Quran dengan cara membaca Al Quran, maka dia akan aktif berpikir bagaimana menerapkan tajwidnya dalam bacaan yang dijabarkan. Apalagi lebih jauh dengan memahami ayat-ayatnya.
“Nah, ketika orang hanyut dalam berpikir, itu orang akan cerdas,” ulasnya.
Keenam, santri yang ingin sukses harus rajin shalat malam. Menurut Kiai Asep, shalat malam adalah kendaraan sukses.
Ketujuh, seorang santri haurs menjauhi makanan yang mendekati kotor, apalagi Najis. Menurut Kiai Asep, makanan kotor dan najis tidak barokah. Karena itu jangan beli makanan atau jajan di luar pondok pesantren.
Selain itu, jika kita makan makanan di luar pasti dilihat oleh banyak.
“Diantara orang yang lihat kita itu ada orang yang tidak punya uang. Ketika orang yang tidak punya uang itu melihat kita makan, dia kepingin, tapi tidak bisa membeli makanan. Makan yang terkondisikan demikian akan hilang barokahnya. Hal itu dibuktikan berpuluh-puluh kali bahwa anak yang ngantuk itu karena jajan di luar. Karena itu sangat berpengaruh kepada kecerdasan anak,” ujar Kiai Asep.










