PONOROGO, BANGSAONLINE.com-Prof Dr KH Asep Saifudddin Chalim, MA, bersama KH Abdullah Kafabih Mahrus, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, menghadiri ijazah kubro yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Babadan Ponorogo pada Ahad 25 Oktober 2026 malam. Sebelum ke lokasi acara, dua kiai kharismatik yang sama-sama pemimpin pondok pesantren besar di Jawa Timur itu transit di rumah seorang tokoh NU tak jauh dari lokasi acara.
Acara ijazah kubro itu digelar di masjid Kiai Ageng Imam Puro Babadan Ponorogo. Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, sekitar 2.000 warga NU hadir dalam acara yang dimulai sekitar pukul 17.00 WIB itu.
Dalam acara tersebut Kiai Asep banyak menceritakan tentang sejarah berdirinya NU. Menurut dia, NU didirikan dengan dua tujuan. “Untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan untuk menjaga serta mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jamaah (ASWAJA),” ujar Kiai Asep.
Saat itu, tutur Kiai Asep, di jazirah Arab terjadi kudeta politik yang dilakukan oleh Abdul Aziz terhadap Raja Syarif Husain. “Syarif Husain itu dzurriyah Rasul,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojoekerto itu.
Karena itu Abdul Aziz lalu menghancurkan situs-situs Islam agar tidak terjadi fanatisme terhadap Syarif Husain. Bahkan makam Rasulullah SAW hampir saja dibongkar dengan alasan agar tidak terjadi perbuatan syirik.
Begitu juga berbagai madzhab dilarang. Hanya Wahhabi yang boleh berkembang. Pada sisi lain di dalam negeri juga muncul kesadaran nasionalisme untuk melawan penjajah. Tapi perlawanannya sporadis dan terpecah-pecah. Sehingga mudah dipatahkan oleh penjajah.
Maka KH Abdul Wahab Hasbullah berinisiatif mendirikan organisasi sosial keagamaan sebagai wadah perjuangan. Menurut Kiai Wahab, organisasi ini harus dipimpin oleh Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.
Namun Hadratussyaikh tak serta merta merestui. Sampai 10 tahun. Kiai Wahab pun hampir “menyerah” dan putus asa.
“Jika guru saya, Hdaratusyyaikh, tidak merestui, maka ada dua pilihan bagi saya. Yaitu kembali ke pondok untuk mengkader santri sebagai pejuang kemerdekaan atau saya masuk PSI atau organisasi lain sambil saya memperbaiki dari dalam,” ujar Kiai Wahab Hasbullah seperti ditirukan Kiai Asep.
KH Abdul Chalim, ayahanda Kiai Asep Abdul Chalim, yang merupakan sahabat karib Kiai Wahab berusaha menenangkan. Ketika Kiai Wahab Hasbullah jadi Ketua Nahdlatul Wathan, Kiai Abdul Chalim sebagai Sekretarisnya.
“Sabar Kiai, Hadratusssyaikh pasti merestui, karena visinya sama,” ujar Kiai Abdul Chalim kepada Kiai Wahab Hasbullah.
Kiai Abdul Chalim kemudian sowan kepada Hadratussyaikh. Kiai Abdul Chalim inilah yang kemudian menjadi mediator.
“Hadratussyaikh memanggil abah saya itu Mas Dzul Halim, orang yang punya kesabaran,” ujar Kiai Asep.
Hadratussyaikh kemudian memerintahkan Kiai Wahab dan Kiai Abdul Chalim mengundang para kiai. Kiai Wahab pun membuat surat undangan.
“Yang menulis surat undangan kepada para kiai itu abah saya, Kiai Abdul Chalim,” ujar Kiai Asep.
Maka terjadi pertemuan Komite Hijaz. Hadratussyaikh dan para kiai menunjuk H. Hasan Gipo menjadi Ketua Komite Hijaz.
“Mohon doannya, saya sedang membentuk tim para ahli sejarah untuk menulis sejarah Haji Hasan Gipo. Untuk kami usulkan sebagai pahlawan nasional. Hasan Gipo ini Ketua PBNU pertama, mulai NU berdiri tahun 1926 hingga tahun 1934,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) itu.
Dalam rapat Komite Hijaz itu para kiai sepakat mengirimkan surat lewat delegasi untuk menemui Raja Abdul Aziz. Namun, ujar Kiai Asep, muncul pertanyaan, siapa pengirim surat itu. Karena kalau surat itu atas nama komite pasti tidak diterima oleh raja Hijaz.
“Komite itu artinya panitia. Tak mungkin seorang raja di luar negeri menerima panitia,” ujar Kiai Asep.
Maka dalam rapat itu KH Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama (NU). “Nahdlah itu diambilkan dari Nahdlatul Wathon, sedangkan Ulama diambil dari 65 ulama yang hadir saat itu,” ujar Kiai Asep yang tiap tahun istiqamah memberikan 600 beasiswa S1, S2, dan S3 kepada kader NU seluruh Indonesia. Bahkan tahun ini Kiai Asep membberikan 1.000 beasiswa kepada para kader NU lewat Pergunu yang dipimpinnya.
Kiai miliarder tapi dermawan itu juga sempat menceritakan proses berdirinya pondok Pesantren Amanatul Ummah. Menurut dia, pesantren yang diasuhnya itu dibangun di atas tanah angker. Saking angkernya tak ada orang yang berani lewat di atas tanah tersebut.
“Kata orang, jangan coba-coba menginjak tanah itu. Tak akan sampai tiga bulan (sudah meninggal),” ujar Kiai Asep menirukan keyakinan orang di kawasan Pacet itu.
“Kalau saya malah senang tanah itu disebut anker karena harganya murah,” ujar Kiai Asep yang disambut tawa peserta Ijazah Kubro.
Di tanah angker yang dibeli dengan cara menyicil itu sudah ada bangunan. Tapi kondisinya jelek, bahkan salah satunya kendang ayam. Bangunan itulah yang dijadikan asrma santri. Sementara sekolahnya pakai terop.
“Tapi papan namanya saya tulis Madrasah Bertaraf Internasional. Santrinya 48 orang,” ujar Kiai Asep sembari mengatakan bahwa santri putrinya 25 orang, sisanya santri putra.
Ternyata berkembang pesat. Menurut Kiai Asep, hanya dalam jangka waktu 9 tahun, wilayah tersebut sudah menjadi kota kecil. Para santri dari berbagai daerah terus berdatangan. Bahkan di sekitar pesantren mulai banyak orang mendirikan rumah serta berjualan di sepanjang jalan menuju Pesantren Amanatul Ummah.
“Tapi mohon maaf saya tak pernah mengandalkan proposal,” ujar Kiai Asep.
Kiai Asep bahkan mengingatkan betapa rendahnya orang yang meminta-minta sumbangan. Ia mengaku pernah mendengar pernyataan kepala dinas sosial era Gus Ipul jadi Wakil Gubernur.
Menurut Kiai Asep, kepala dinas itu kesal karena banyak kiai yang mengajukan proposal minta sumbangan untuk madrasah dan pesantren.
“Proposal lagi proposal lagi,” kata kepala dinas sosial tersebut seperti ditirukan Kiai Asep.
Karena itu Kiai Asep menolak sumbangan dari pemerintah. Ia bercerita bahwa Presiden Jokowi dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pernah menawari sumbangan tapi ia tolak. Kiai Asep mengaku lebih baik minta langsung kepada Allah SWT.
“Saya minta langsung kepada Allah. Saya gak malu kalau minta kepada Allah, meski permintaan saya banyak,” ujarnya.
Di akhir ceramahnya Kiai Asep mengijazahkan shalat hajat 12 rakaat. Menurut dia, shalat hajat ini diambil dari Kitab Ihya’ Ulumiddin karangan Imam Ghazali. Menurut Kiai Asep, shalat hajat inilah yang menjadi kunci sukses hidupnya selama ini.
Selain mengijazahkan shalat malam Kiai Asep juga mengijazahkan Hizbul Khofi dan Hiizbun Nashor.
“Hizbun Nashor ini ijazah dari Hadratussyaikh,” ujar Kiai Asep.
Kiai Asep kemudian memimpin doa dan pembacaan Hizib Nashor yang diamini ribuan warga NU yang hadir dalam acara tersebut.
Usai Kiai Asep, Kiai Kafabih Mahrus juga mengijazahkan doa. Doa yang diiajazahkan Kiai Kafabih itu dicetak dalam kertas foto kopi dan dibagikan kepada semua peserta yang hadir.
“Tadi foto kopi 1.500 lembar sudah habis,” ujar seorang panitia kepada BANGSAONLINE.
“Berarti warga NU yang hadir sekitar 2.000-an,” tambahnya.
Karena tak semua warga NU yang hadir pegang foto kopi doa yang diijazahkan.










